DETERMINASI SEKS

A.    Pengertian Determinasi Seks
Determinasi seks adalah penentuan jenis kelamin suatu organisme yang ditentukan oleh kromosom seks (GONOSOM). Penelitian pertama tentang adanya hubungan antara kromosom dengan perbedaan jenis kelamin telah dilakukan oleh seorang Biologiwan berkebangsaan Jerman bernama H. Henking pada tahun 1981. Ia menemukan adanya struktur tertentu dalam nukleus beberapa serangga melalui spermatogenesis yang disebut badan X. Ia membedakan spermatozoa menjadi 2, yaitu yang memiliki dan yang tidak memiliki badan X.
Pada tahun 1902 C.E.Meclung membenarkan penemuan Henking dan melanjutkan penelitiannya tentang kromosom pada berbagai jenis belalang betina. Berhubung dengan itu ia menegaskan bahwa badan X ada hubungannyan dengan penentuan jenis kelamin.

B.     Determinasi Seks: metode X-Y, Z-W dan X-O
Makhluk hidup di dunia beraneka rupa dan ragam sehingga cara penentuan jenis kelaminnya pun berbeda- beda. Ada beberapa sistem penentuan jenis kelamin berdasarkan macam pasangan kromosom kelamin atau berdasarkan jumlah sel kromosom yang dimiliki setiap individu. Dikenal beberapa penentuan jenis kelamin, yaitu :
1.      Sistem X-Y
Kebanyakan hewan dan tumbuhan dioecious, manusia, semua mamalia, dan banyak insecta termasuk ke sini. Sistem ini ditemukan pertama kali oleh H. Hengki (1891), sarjan jeman. Ia meliahat adanya bahan pembentuk khas dalam inti sperma beberapa jenis serangga. Bahan ini disebutnya badan X (maksudnya masih bersifat Anu) C. E. McClung (1912) melanjutkan pengamatan terhadap bahan khas ini, dan menyatakan bahwa badan X berhubung dengan penentuan kelamin.
E. B. Wilso (1905. Melakukan penelitian pula terhadap serangga, dan peryataan bahwa badan X yang disebut henking ialah kromoson yang mempengaruhi penentuan jenis kelamin betina. Dia sebut adanya sistem XY pada sekelompok serangga, dan sistem XO pada kelompok lain.
Belakangan pengetahuan orang tentang penentuan kelamin banyak diperoleh berkat jasa C. B. Bridges, R. B. Goldschmidt dan P. W. Whiting. Masing-masing melakukan percobaan pada lalat buah, ngengat dan tawon. Ada 2 macam gonosom menurut sistem X-Y:
·         Kromosom X
·         Kromosom Y
Kromosom Y biasanya lebih kecil dan lebih pendek, yang menurut T. H. Morgan (1919) pada manusia hanya sekitar separo X. Betina mengandung 2 kromosom X, O kromosom Y,  sehingga di singkat kariotipe betina melihat pada susunan kromosom kelamin : XX. Kariotipenya melihat pada susunan koromosom kelamin : XY.
Kalau jumlah kromosom suatu makhluk disimbolkan 2N (diploid), berarti itu terdiri dari 2 A +2G. A= autosom, G= gonosom. Betina ditulis 2A XX, jantan 2A XY.

Drosophila melanogaster memiliki 8 kromosom dalam susunan 2N. Berarti 2A-nya ialah 8-2= buah. Atau dengan kata lain autosomnya ada 6 buah, atau 3 pasang. Pada Drosophila ini A=3.
Pada manusia ada 46 kromosom. Autosomnya ialah 46-2 =44 buah, atau 22 pasang. Pada orang A=22. Pria 2A XY, wanita 2A XX. Dalam susunan autosom yang normal kariotipe seseorang disederhanakan dengan mencantumkan susunan gonosomnya saja, 2A-nya dihilangkan.
Pada gametogenesis kromosom homolog berpisah. Begitu pula gonosom yang berpasangan. Jadi setiap gamet hanya mengandung 1 gonosom, X atau Y. Betina bersusunan XX, jantan XY maka ovum hanya 1 macam, ovum-X. Sedangkan sperma ada dua macm, yakni sperma X dan sperma Y, (maksudnya sperma yang mengandung kromosom X dan sperma yang mengandung kromosom Y).
Maka pada sisitem X-Y disebut bahwa pada betina terdapat homogamet (semacam), sedang pada jantan terdapat heterogamet (berbeda). Kalau diperhitungkan dengan autosomnya, maka ovum Drosophila mengandung 3a (a= autosom) + X, dan spermanya mengandung 3a + X atau 3a + Y.
Ovum manusia : 22a + X, sperma : 22a + X atau 22a + Y. Kalau terjadi perkawinan karena gamet jantan ada2 macam, sedang gamet betina 1 macam, macam perkawinan atau macam individu yang terjadi ada 2 menurut jenis kelaminya.
Bentuk kromososm kelamin sesungguhnya bukan seperti bentuk huruf X dan Y. Hanya simbolnya begitu. Berasal dari badan Anu yang pertama kali diperkenalkan Hengking. Tahun-tahun mutahir sudah dapat diketahui jenis kelamin embrio atau arang dewasa yang diragukan susunan genetisnya. Untuk ini dilakukan berbagai macam test. Ada 3 yang populer dipakai kini untuk mengetest jenis kelamin yang sebenarnya sesuai dengan susunan genetis, yakni:
1.      Sex chromaatine
2.      Drumstick
3.      Kariotipe
Wanita normal test sex chromatine-nya + (positif), normal (negatif). Pria yang memiliki kelainan bawaan XXY, juga +. Wanita memiliki bawaan XO, testnya justru -, seperti pria.  
Karena itu test sex chromatine perlu dibantu oleh test lain, terutama kariotipe. Bisa juga test susunan genetis itu berpegang pada test sex chromatine saja, kalau diagnosa klinis lain, seperti susunan anatomis, histologis, psikologisdan fisiologis sudah dipandang cukup menunjangnya.
Dengan bekal ketiga macam test jenis kelamin di atas, bersama diagnosa klinis lain, dapatlah diketahui apakah susunan genetis (kromosom) seseorang embrio atau anak, ada memiliki kelainan atau tidak.
Membedakan sperma X dan sperma Y
Untuk memenuhi hasrat orang untuk mengatur jenis kelamin anak yang bakal dikandung ibu, telah dilakukan besar-besaran pula dalam puluhan tahun belakangan oleh para peneliti terhadap sifat gonosom X dan Y dalam sperma. Berpegang pada pendapat T.H. Morgan bahwa sperma –Y lebih ringan dan berkepala lebih kecil dari pada sperma -X maka secara in vitro belum sukses. Sementara itu apakah sperma –X atau sperma –Y yang akan membuahi ovum, banyak yang berpendapat bahwa itu tergantung pada suasana fisiologis ibu menjelang konsepsi. Mungkin suatu ketika sperma –X yang paling gesit datang menyerbu ovum, dan jenis itu yang bisa masuk dan membuahi, ketika lain hanya sperma-Y pula yang paling gesit dan berhasil membuahi.



Komentar